Di Balik Sekat Itu Ku Dengar Ratap Kesedihan: Ikhlas itu buah Iman

Published Maret 24, 2012 by Azzalia Blog

Ratap kesedihan berawal dari isakan sedih seorang teman adikku yang menceritakan kegundahannya dan kekecewaannya di balik sekat kamarku. Bisa terdegar  dengan jelas clear bener bener clear apa isi ratapan kesedihan nan kegelisahannya itu. Bukan maksud untuk menguping pembicaraan mereka, tapi ini tidak disengaja untuk mencuri dengar. Lha wong sekatnya terbuat dari papan kayu triplek, jadi ya memungkinkan sekali untuk bisa mendengar dengan jelas apa isi tuturan ungkapan hatinya. Kegundahan hatinya membuncah begitu dia menceritakan ayahnya telah pergi menghadap Sang Khaliq.

Dirinya ternyata belum bisa menikhlaskan takdir hidupnya harus ditinggal pergi untuk meninggalkannya selamanya. Sepanjang perkataan yang kudengarkan dari balik sekat itu tidak lain merupakan ugkapan kemarahan pada Allah karena harus menghadapNya ketika dirinya belum siap ditinggal pergi. Heeemm, paham sih paham. Tapi, apa kita musti marah dengan takdir yang telah Allah tetapkan dan tertulis di Lauh Mahfudz. “ Dan setiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati.” Agak heran sih, ketika kata-katanya  lama-lama makin jauh menghujat dan mempertanyakan apa sih mau Allah pada dirinya. Wow, tersentak kaget aku, hampir aja aku juga tersulut marah mendengar ucapannya tentang ketidakadilan takdir Allah. Heeehee, alhasil kemarahanku redam karena ku punya peredam amarah. Peredam itu kuaktifkan dan langsung dialog dengan qolbu, “apa diri ini bisa ikhlas jika mengalami hal yang sama?” I don’t know deh, rasa-rasanya ketika membayangkannya mungkin bisa jadi tak seteagar Muhammad SAW atau setabah Ali bin Abi Tholib ketika ditinggal pergi orang-orang terkasihnya.

“Tiada suatu musibah pun yang terjadi di muka bumi dan tiada pula yang menimpa diri kalian, melainkan semuanya telah tertulis di Lauh Mahfud sebelum Kami menciptakan bumi dan diri kalian” (QS AL Hadid: 22)

Bicara soal nasehat Qolbu terkait taqdir Allah sebenarnya mudah-mudah gampang. Sebenarnya seandainya keimanan telah tertanam kuat pada jiwa dan sanubari, pada qolbu dan mengakar kuat, pasti musibah seberat apapun dijadikan sebagai buah keridhoan dan keikhlasan dalam menerima ketetapanNya. Sekuat apapun kita menghalangi petir menyambar, menahan air hujan turun ke bumi, menghalau malaikat Izroil, atau menghentikan dan menangguhkan kematian, tak akan pernah usaha itu sukses merubah ketetapan yang telah Allah tulis dengan sekenarioNya.

Sesungguhnya ketika kita mendapat musibah apapun itu, telah Allah berikan bentuk kasih dan sayangnya kepada hambanya. Bagi hambanya yang mampu memetik buah iman, niscahya dirinya merasakan ujian atau musibah itu sebagai bentuk cara Allah menyayangi hambanya karena Allah menjanjikan derajat yang lebih tinggi. Seseorang bisa bertambah derajatnya dimata Allah hanya dengan bersabar dan ikhlas ketika dirundung musibah dan kemalangan. Bukankah ujian-ujian kesabaran para Nabi dan Rosul juga demikian, malah mereka menerima berbagai kedahsyatan ujian keimanan lebih berat. Semakin diri kita ikhlas dalam menerima ujian atau musibah semakin pula bertambah buah iman kita kepada Allah bagi umatnya yang senantiasa menyadari bahwa Allah telah memberikan ketetapan terbaik bagi hambaNya.

“Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyenangi sesuatu padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Qs Al Baqoroh : 216)

Berpedoman Qs Al Baqarah : 216 akan menuntun kita pada keridhaan serta keikhlasan dalam menyikapi setiap persoalan hidup. Jika kita ridha terhadap semua ketetapan yang telah Allah tulis di Lauh Mahfudz, maka hidup akan terasa cukup dan akan mengantarkan pada kebahagiaan. Ridha adalah bunga yang indah apabila isiram dengan keikhlasan dan keridaan serta keikhlasan itu berada pada sebuah taman yang dinamakan taman iman.

Cukuplah sekat kamarku menjadi saksi bahwa orang yang tidak ridha di hatiya tercipta ketidak puasan. Cukuplah tulisan ini menjadi muhasabah pada Illahi serta cukuplah tulisan ini menjadi jembatan penghubung karena tidak sempatnya aku memberi advice pada teman adikku. Semoga Allah member kelimpahan kesabaran, keridhaan, keikhlasan dan kualitas keimanan pada kita. Aamiin Allohuma Aamiin.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: