Timur Lang

All posts tagged Timur Lang

Timur Tengah Pasca Abbasiyah: Dari Saljuk sampai Mamluk

Published April 22, 2012 by Azzalia Blog

Pasca runtuhnya Dinasti Abbasiyah sampai dengan Abad ke-11, tidak ada lagi kekuatan sentralistis yang dominan di Timur Tengah. Beberapa rezim kecil bermunculan diantaranya rezim Buwaihiyah di Iraq dan Iran Barat (945-1055), rezim Samaniyah di Iran Timur dan Transaxonia (sampai 999), dan rezim Ghaznawiyah di Afghanistan dan Khurasan (sampai thn 1040). Menurut Lapidus, rezim-rezim ini membuka jalan bagi suksesi dan munculnya sebuah imperium rezim nomadik, yaitu bangsa Turki Saljuk. Ia menyebut periode ini sebagai periode sejarah yang kacau balau.

Sejak abad ke-7, kekuatan militer dan penguasa di memang mulai bergeser dari tangan bangsa Arab ke tangan bangsa Turki. Bangsa nomad Turki telah memiliki interaksi dengan Islam sejak periode awal penaklukan bangsa Arab, dan bangsa Turki banyak yang menjadi tentara profesional di angkatan perang bebrapa khalifah Abbasiyah. Beberapa suku Turki di wilayah pemukiman sepanjang sungai Oxus telah mengadopsi Islam Sunni; saat mana mereka sering memasuki pusat wilayah kekuasaan Islam dan menjadi kekuatan pertahanan Islam.

Pada pertengahan abad ke-11, sebuah konfederasi suku-suku Turki yang dikenal sebagai Saljuk telah berhasil membangun dominasi atas wilayah Iran, dan pada thn 1055 mereka mengambilalih otoritas administratif dan militer dari khlaifah Abbasiyah di Baghdad. Bangsa Turki Saljuk menjaadi pelindung dan pembela tradisi luhur Islam. Dalam kapasitasnya ini, sultan-sultan Saljuk menciptakan kekaisaran yang sangat besar yang wilayahnya terbentang dari Iran utara hingga jazirah Arabia. Sejak itu, suku-suku Turki lainnya banyak melakukan migrasi ke wilayah timur dan memantapkan kehadiran bangsa Turki di Iran utara dan wilayah Kaukasia. Namun seiring kekalahan Turki oleh tentara Bizantine pada perang Manzikert thn 1071, suku-suku migran tersebut pindah ke Anatolia dan memulai transformasi gradual dari wilayah Kristen berbahasa Yunani menjadi wilayah Muslim berbahasa Turki.

Meskipun Turki Saljuk berhasil membangun kekaisaran, namun mereka tidak mampu mempertahankannya. Kapasitas organisasional dan institusional yang diperlukan tidak tersedia. Ekonomi Iraq waktu itu belum siap mendukung sentralisasi pemerintahan, administrasi birokratik belum berkembang secara efektif dalam masyarakat yang didominasi tuan-tuan tanah militer yang menggantikan kedudukan bangsawan pemilik tanah berskala kecil pada masa akhir Abbasiyah dan Sasaniah. Pada tahun 1157 kekaisaran Saljuk terpecah menjadi beberapa negara kecil, sebagian besar dikepalai pangeran-pangeran Saljuk.

Meski demikian, periode Saljuk tetap memiliki makna penting. Ia menunjukan kualitas absortif Islam, karena bangsa Turki dapat menyesuaikan diri dengan cepat dengan kehidupan perkotaan dan mengadopsi tradisi kebudayaan Islam yang bernilai tinggi, seperti dalam bidang seni, arsitektur, dan penghormatan terhadap syariah dan ulama. Selain itu, Saljuk juga bertanggungjawab atas pembaruan ajaran Islam Sunni; adalah menteri Saljuk Nizam al-Mulk yang mensponsori pendirian sistem madrasa bagi pendidikan resmi para ulama. Bahkan, Saljuk berhasil memperluas pengaruh Islam sampai ke Anatolia timur, yang kemudian memberikan landasan bagi munculnya dinasti Usmani, dinasti Islam yang paling mengagumkan.

Seiring hancurnya kekisaran Saljuk, wilayah Irak barat dan tanah Arab terpecah menjadi beberapa dinasti kecil. Meskipun bukan kekuatan yang besar, hanya negara kota, namun mereka menguasai sumberdaya yang cukup sehingga mampu membiayai kehidupan istana yang mewah dan melanjutkan tradisi memberikan dukungan terhadap para pujangga dan sarjana. Di wilayah yang terpecah-pecah inilah, pada abad ke-11 dan ke-12, tentara salib Eropa menjejakan kehadirannya dan membangun empat kerajaan Latin, yaitu Edessa, Antioch, Tripoli, dan Jerusalem. Namun setelah kurang dari 200 tahun pendudukan bermasalah atas wilayah tersebut, dan melancarkan beberapa serangan salib, bangsa Eropa terusir kembali dari Mediterania. Selain menciptakan semangat perlawanan dan kerjasama di antara para penguasa di Syria dan Mesir, gabungan keduanya yang mengalahkan pasukan salib, membuat pengaruh salib-kristen di wilayah ini sangat kecil.

Ancaman yang lebih serius terhadap dunia Islam justru datang dari timur. Selama abad ke-13, semua wilayah Islam dari India sampai Syria menderita akibat penaklukan bangsa Mongol. Tidak seperti penaklukan bangsa Arab pada abad ke-7 dan 8 yang membawa agama dan tatanan sosial baru, atau ekspansi Saljuk yang membangkitkan kembali institusi-isntitusi Islam, tujuan invasi bangsa Mongol tidak lebih dari sekedar penaklukan dan penghancuran. Gelombang invasi pertama dipimpin oleh Gengis Khan yang menjadi penguasa wilayah Cina utara pada abad ke-13.  Dia mengirim tentaranya ke wilayah barat, pada thn 1220an mereka menghancurkan kota-kota dagang penting Samarkand dan Bukhara dan menjadikan semua wilayah Iran sebagai taklukannya.

Pada thn 1256 gelombang invasi kedua dilancarkan Mongol di bawah pimpinan Hulagu, anak Gengis Khan, dengan tujuan menaklukan semua wilayah Islam sampai ke Mesir. Pada 1258, pasukannya berhasil mengalahkan tentara Abbasiyah dan menguasai Baghdad dan membunuh khalifah Abbasiyah, menghancurkan lembaga yang telah menjadi simbol universalisme Islam selama 500 tahun. Penghancurkan Baghdad oleh bangsa Mongol, telah mengakhiri perannya sebagai pusat perdagangan dan kegiatan intelektual terpenting dunia Islam. Setelah 1258, Baghdad berubah statusnya menjadi kota provincial, dan penduduk, ekonomi dan pengaruhnya menurun drastis.

Hulagu tidak bisa memnuhi ambisinya untuk menaklukan Mesir. Pada thn 1260, pasukan Mamluk, sebuah kesultanan militer Turki baru berbasis di Kairo, mengalahkan Mongol di utara Jerussalem, Akibatnya, Mamluk menjadi penguasa Syria dan Mesir sampai tahun 1517. Pemerintahan Mamluk sendiri harus mengahdapi berbagai tantangan, namun mampu bertahan selama hampir 250 tahun, yang sekali lagi membuktikan pentingnya peran bangsa Turki  dalam memerintah negara-negara Islam Timur Tengah sejak abad ketujuh dan seterusnya.

Kemenangan Mamluk atas pasukan Hulagu tidaklah mengakhiri gelombang invasi dari wilayah timur. Dari 1381 sampai 1404, tentara Timur Lang (Tamerlane) berhasil menguasai sebagian besar Iran, mengalahkan pangeran Turki di Anatolia, dan menaklukan Damaskus. Meskipun Timur Lang adalah orang Turki dan Muslim, namun taktik terornya, pembantaiannya adalah seperti model yang dilakukan oleh Mongol. Wilayah Iran bagian tengah masih menunjukan bukti penghancuran yang dilakukan oleh pasukan ini. Timur berhasil menaklukan wilayah yang luas, namun dia tidak berhasil membangun sebuah kekaisaran yang stabil. Seiring kematiannya pada 1405, Anatolia dan tanah Arab sekali lagi terfragmentasi menjadi beberapa negara dinasti yang kecil. Di kemudian hari salah satunya menjadi cikalbakal kekaisaran Usmani.

Secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa invasi Timur lang dan Mongol memang berhasil mengguncangkan tatanan Islam di Timur Tengah, namun mereka gagal untuk menghancurkannya. Setelah berlalunya masa kekacauan dan ketidakstabilan selama abad ke-14 dan 15 ini, munculah di wkawasan antara Anatolia dan India, tiga kekaisaran Islam yang mampu menciptakan stabilitas politik di pusat wilayah Islam, membentuk dan menghidupkan kembali kehidupan kultural dan religius, dan membawa era ekspansi baru dan kemegahan Islam. Ketiga kekaisaran tersebut adalah kekaisaran Moghul di Delhi–India di wilayah timur, kekaisaran Safawid di Iran (wilayah tengah), dan kekaisaran Usmani di wilayah barat. Masing-masing kekaisaran memberikan kontribusi kultural, politik dan sosial yang penting bagi perkembangan kawasan timur tengah dan dunia Islam. Kemunculan ketiga kekaisaran itu, menunjukan bahwa Islam tidak mencapai akhir ekspansinya di masa kekaisaran klasik Abbasiyah.

Kekaisaran Moghul, yang terkenal dengan peninggalan Taj Mahal-nya, keberadaannya harus difahami sebagai bukti munculnya sebuah kekaisaran Islam sintesis pada abad ke-16. Demikian pula hanya dengan kekaisaran Safawid, meskipun digulingkan pada 1722, keberhasilan pemerintahannya dalam menjadikan Shi’isme (faham Syiah) sebagai agama resmi negara memiliki makna penting yang panjang pengaruhnya bagi seluruh kawasan Timur Tengah. Sementara kekaisaran Usmani mewujudkan kelanjutan mata rantai sejarah dari abad ke-16 sampai dengan abad ke-20. Dari 1517 sampai dengan berakhirnya Perang Dunia I, sebuah periode selama 400 tahun, kekaisaran Usmani merupakan penguasa pusat Timur Tengah. Lembaga dan praktek administratif Usmani telah membentuk orang-orang/masyarakat Timur Tengah modern dan meninggalkan sebuah warisan yang terus bertahan setelah kekkaisaran itu menghilang. Puncaknya, kekaisaran Usmani merupakan kekuasaan Eropa sebagaimana halnya Timur Tengah, dan penguasaannya yang panjang atas wilayah Balkan serta perannya sebagai kekuatan besar Diplomasi juga meninggalkan jejak penting dalam sejarah Eropa.